Kamis, 20 November 2025

Satu Setengah Dekade

 . . .

Sebuah orbit sunyi yang Tuhan gores dengan kehendak-Nya sendiri, mengitari jejak langkah dan serpih rindu;

"Satu Setengah Dekade Melingkar Jauh,
Hingga Sauh Kembali ke Satu Pusat"

Waktu berjalan tanpa suara, menggenggam kompas yang memantulkan bayang riuh ketakutan; menatap dari sela retak, mengikat langkah yang tersesat, berselimut dalam kabut.

Gemetar itu meremas bisu.

Takdir tidak pernah berteriak, ia hanya setia menyisihkan pintu yang sejak lama menunggu, mengarah pada pulang...

di sana, ada rumah yang tak pernah berpindah.


— Galuh Retno F |  Rasa Prosa, November 2025

Senin, 22 Januari 2024

In The End

Diantara mereka fokus apa yang hilang dari sebagian.
Mengamati jejak setiap detil keping kehidupan.

Kepedihan dalam relung
hingga berakhir kesendirian.

Menjawab ketidakmampuan untuk melepaskan.
Terjatuh membawa jauh ke pusaran yang lebih dalam. 


...


Home.


Beberapa bulan terakhir,
hariku hanya tumpukan kebisingan.
Begitu riuh, hingga lupa merawat kesendirian.

Di ujung jalan, kutemukan sebuah era baru.
Terjun dalam kosong sebagai pelarian.
Bangun, bertahan hidup, hingga tertidur kembali.

Dan selalu terulang...


— Galuh Retno F |  Rasa Prosa, Januari 2024

Sabtu, 19 Juni 2010

Hai Kamu yang di Sana

Satu... dua... tiga...

Mari berputar dalam lingkaran sama.
Tawa, senda, serta gurau,
apakah ini hanya sebuah lelucon?

Pernahkah kau bertanya perihal hati?

Hahaha...

Aku hanya bergurau dengan malam.

Lengkap sudah. 

Apa kau dengar jeritan yang tertahan di dada ini?
Ya, ya, ya... Kurasa tidak.
Kau hanya terlalu sibuk merawat egomu sendiri,

Hai Malam.


— Galuh Retno F |  Cerita Prosa, Juni 2010

Sabtu, 23 Januari 2010

Menuju Labirin

Mengingat dua tahun lalu...
Serupa merawat ingatan tentang kematian.

Mati, sebuah titik nadir cerita dari labirin.
Yang terlanjur kugambar pada tembok kehidupan.
Hanya lorong yang berputar, tak ada jalan keluar.

Aku tidak mengutuk dia, aku juga tidak membencinya.
Tapi tolong, berikan aku lebih banyak cahaya.
Hingga tidak ada lagi ruang, untuk melihat bayangan.

Aku lelah. Sungguh lelah ...


— Galuh Retno F |  Cerita Prosa, Januari 2010

Jumat, 27 Maret 2009

Ketika Manusia Sendiri Ditemani dengan Hatinya


"jika maaf sudah tidak lagi bisa diucapkan,
maka hina ini yang bisa saya berikan"

Saya teringat sore kemarin,

saat melihat cerita gambar di televisinya.

Mungkin ada satu yang membuat saya berpikir;


"Saya telah menjadi orang lain, yang sangat saya benci."


Ya, saya tahu itu!

Seseorang yang membuat saya lupa,

tentang arti cinta dan luka.

Seseorang setahun lalu kini adalah saya.


Saya kini seorang perebut cinta,

dan tidak akan pernah peduli dengan cinta.

Karena saya adalah seseorang yang hina,

sayapun tidak tahu harus berakhir dari mana.



— Galuh Retno F |  Cerita Prosa, Maret 2009

Kamis, 26 Maret 2009

Cerita Tentang Wanita

JIKA. Kesendirianku sudah merasuki waktu, bayangannya selalu saja hinggap; menjamur dan tidak pernah lepas dari kepalan kepala ini.

Harus ke mana lagi aku buang semuanya? Di mana dan sampai kapan? Aku sudah lelah! Sungguh lelah dan sangat lelah. Sampai seluruh tubuhku hanyut di hamparan letih. Ya, aku memang sudah terlampau lelah!

Sempat sesekali aku memimpikan mati. Mati dengan meninggalkan semua yang kuperoleh di dunia. Hingga aku benar-benar lupa akan dunia masa laluku, masa kini, dan masa depan.

Aku hanya bisa melihat, bermimpi, bahkan bersandiwara kalau aku sudah benar-benar mati. Mati dengan senyuman puasku tentang kematian.


Sayup-sayup kudengar suara gemuruh awan hitam di luar; kupandangi satu per satu kilat yang menghantam awan gelap di depan mataku. Aku sama sekali tidak mendengar suara lembutnya lagi. Tidak pernah kudengar canda dan gurau darinya lagi. Sudah setahun ini aku hanya diam di sudut ruang kecil hitamku bersama semilir lagu jazz dan beberapa teguk alkohol yang selalu setia menemani di saat aku mulai bisa berkata, “Aku bosan dengan dunia!”

Kuambil selembar gambar diri seorang wanita di meja persegi tempatku. Aku rindu dengannya... sangat rindu dengan seorang wanita yang selalu menyediakan bahunya di saat aku membutuhkan bahu itu. Seorang wanita yang tidak pernah lelah mendidikku sampai aku mengerti siapa aku.

Aku rindu dengan wanita itu.

Wanita yang selalu memberi pundaknya di saat aku membutuhkannya; wanita yang selalu memberi ASI-nya di saat aku haus dan harus minum, dan wanita yang selalu membelai rambutku di saat aku mulai kehilangan kendali akan arti hidup di dunia jahanam ini.

Aku rindu saat itu. Rindu saat ia memanggilku "Sayang". Ibuku. Aku hanya butuh ibuku saat itu.

***

PUKUL 21.00, seseorang mengetuk pintu kamar dengan kepalan yang keras. Seperti seonggok batu yang dihantamkan ke lembaran kayu tepat di depan daun telinga ini. Kulangkahkan kaki yang benar-benar sudah tidak bisa lagi kurasakan berjalan. Terasa berat, seperti seorang pengemis yang kehilangan kaki tetapi harus menempuh perjalanan seratus kilometer.

Saat kubuka daun pintu itu, kulihat perlahan seorang wanita dengan senyumannya yang terlihat seperti ada seonggok batu besar bersarang di bibirnya. “Sedang apa kau?! Cepatlah rapikan tubuhmu... tampak kotor sekali.”

Aku hanya terdiam dan segera menganggukkan kepalaku tanda mengiyakan ajakannya.

Sesekali aku lihat tubuh semampai di pantulan cermin dekat kamar mandi tempatku bersolek. Aku mulai merapikan tubuhku, menyisir rambutku, lalu mengganti bajuku dengan pakaian yang sudah disiapkan.

“Lama sekali kamu ini?! Sudah tidak betah di sini?”

Mendengar kata-kata itu, aku hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalaku sambil mengatakan “tidak” dengan nada yang hampir saja tidak terdengar.

“Cepatlah... Om Joni sudah menunggumu di depan. Layani dia dengan baik, ya!”

Aku hanya bisa tertunduk dengan semua otakku yang kosong karena aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak bisa bergerak. Mati pun sepertinya menolakku, sampai aku harus bersandiwara mati.

Wanita yang kukenal dahulu tidak seperti wanita yang kukenal masa kini. Wanita itu menjualku pada berbagai lelaki hidung belang hanya untuk kepuasan dunianya. Aku dijual hanya demi memuaskan kantong dan kesenangan dunianya.

Aku benci dunia ibuku. Saat ini, lalu, bahkan dahulu!

Ya, aku sangat benci ibuku yang telah melahirkanku demi beberapa lembar uang para lelaki hidung belang. Aku benci dunia hari ini, hari lalu, bahkan hari esok jika bersama ibu kandungku!

Aku benci ibuku!


— Galuh Retno F |  Fragmen Fiksi, Maret 2009

Rabu, 29 Oktober 2008

Yang Muda dan Tua

“Hai mari sebentar saya bisikkan sesuatu.
Tahukah kamu apa yang saya mau?”

Mungkin saya hanya terdiam sesaat waktu itu; tak tahu sedang memikirkan apa, dan saya hanya mengingat sesekali bisikan didekat telinga saya mengatakan selamat malam.

Saya jatuh cinta lagi malam itu. Dengan seseorang yang mungkin orang lain tidak akan percaya kalau saya bercerita: Gadis berkepala dua dengan lelaki berumur lebih muda lima tahun darinya. Rasanya kalau saya sudah mulai mengingatnya, saya suka tersenyum nakal dan mulai berhitung berapa banyak tanda dan tanya yang sedang mengitari kepala saya.

Sesekali saya duduk di sudut merah sambil melihat cerita di dinding persegi. 

“Apakah saya harus memulai bercerita kembali di dinding itu?” 

Sesekali juga saya bangun menyalakan api diatas sebuah batang kayu, mulai menghisap asap surga—yang terkadang membuat orang lain berpikir merasakan hotel neraka. Malam itu saya berbicara tiada henti, tertawa, dan tak kuasa juga merasakan titik air jatuh di pipi saya.

Malam semakin larut, tetapi belum juga bahan selesai dibahas. Merasa tubuh ini sedang dalam sebuah ruang dan bekerja; membuka buku, memulai pembicaraan, dan tidak lupa juga mengecek satu per satu siapa saja yang hadir di pertemuan kali ini.

Saya mulai terkantuk, tetapi belum juga bahan selesai dibahas malam itu. Seperti sedang merebahkan tubuh di atas sebuah savana dan ditemani alunan nada, sambil membawa pikiran melayang ke alam bawah sadar.

Saya mulai merasakan pagi datang, tetapi belum juga bahan selesai dibahas malam itu. Seperti sedang menunggu sebuah wahyu yang hanya datang jika kita terus berdoa memohon untuk memintanya.

“Kau tidak lelah, hai Pemuda?” Saya langsung memotong pembicaraan waktu itu.

“Belum. Kenapa?” sahut si Muda, yang sepertinya ia sudah mulai mengerti maksud dari akhir percakapan malam itu.

“Saya harus beraktivitas pagi ini. Apakah kau tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini?” tanya saya dengan suara sedikit bermalas-malasan.

“Tidak!!”

“Baiklah. Kalau begitu kau berbicara saja dengan teleponmu sendiri!!”

“Lho!! Kenapa?”

“Masih tanya kenapa?! Memang kau tidak pernah tahu mencari upah di pagi hari?!”

Serentak kami berdua terdiam, dan tiba-tiba saya hanya mendengar suara serangga melewati daun telinga saya.

“Saya masih muda dan belum bekerja!!”


— Galuh Retno F |  Prosa, Oktober 2008