Mungkin saya hanya terdiam sesaat waktu itu; tak tahu sedang memikirkan apa, dan saya hanya mengingat sesekali bisikan didekat telinga saya mengatakan selamat malam.
Saya jatuh cinta lagi malam itu. Dengan seseorang yang mungkin orang lain tidak akan percaya kalau saya bercerita: Gadis berkepala dua dengan lelaki berumur lebih muda lima tahun darinya. Rasanya kalau saya sudah mulai mengingatnya, saya suka tersenyum nakal dan mulai berhitung berapa banyak tanda dan tanya yang sedang mengitari kepala saya.
Malam semakin larut, tetapi belum juga bahan selesai dibahas. Merasa tubuh ini sedang dalam sebuah ruang dan bekerja; membuka buku, memulai pembicaraan, dan tidak lupa juga mengecek satu per satu siapa saja yang hadir di pertemuan kali ini.
Saya mulai terkantuk, tetapi belum juga bahan selesai dibahas malam itu. Seperti sedang merebahkan tubuh di atas sebuah savana dan ditemani alunan nada, sambil membawa pikiran melayang ke alam bawah sadar.
Saya mulai merasakan pagi datang, tetapi belum juga bahan selesai dibahas malam itu. Seperti sedang menunggu sebuah wahyu yang hanya datang jika kita terus berdoa memohon untuk memintanya.
“Kau tidak lelah, hai Pemuda?” Saya langsung memotong pembicaraan waktu itu.
“Belum. Kenapa?” sahut si Muda, yang sepertinya ia sudah mulai mengerti maksud dari akhir percakapan malam itu.
“Saya harus beraktivitas pagi ini. Apakah kau tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini?” tanya saya dengan suara sedikit bermalas-malasan.
“Tidak!!”
“Baiklah. Kalau begitu kau berbicara saja dengan teleponmu sendiri!!”
“Lho!! Kenapa?”
“Masih tanya kenapa?! Memang kau tidak pernah tahu mencari upah di pagi hari?!”
Serentak kami berdua terdiam, dan tiba-tiba saya hanya mendengar suara serangga melewati daun telinga saya.
“Saya masih muda dan belum bekerja!!”