Seperti mimpi yang tak tahu di mana harus dimulai dan di mana akhir ceritanya. Seperti burung yang tak punya sayap untuknya terbang. Aku seperti kehilangan arah untuk melangkah... melanjutkan dunia hingga akhir hidupku.
Seharusnya aku tahu dan mau tahu waktu itu. Seharusnya dia bisa mendengarku; merasakan hati ini terus menangis, setiap kali senja luruh menjadi malam.
Dan seharusnya aku tahu: Akankah dia datang padaku untuk mengatakan selamat malam, ataukah dia hanya datang untuk mengatakan selamat tinggal?
Aku hanya bisa mencintainya...
sampai hari ini, dan entah sampai kapan.
— Galuh Retno F | Prosa Lirih, Maret 2008