JIKA. Kesendirianku sudah merasuki waktu, bayangannya selalu saja hinggap; menjamur dan tidak pernah lepas dari kepalan kepala ini.Harus ke mana lagi aku buang semuanya? Di mana dan sampai kapan?
Aku sudah lelah! Sungguh lelah dan sangat lelah. Sampai seluruh tubuhku hanyut di hamparan letih. Ya, aku memang sudah terlampau lelah!
Sempat sesekali aku memimpikan mati. Mati dengan meninggalkan semua yang kuperoleh di dunia. Hingga aku benar-benar lupa akan dunia masa laluku, masa kini, dan masa depan.
Aku hanya bisa melihat, bermimpi, bahkan bersandiwara kalau aku sudah benar-benar mati. Mati dengan senyuman puasku tentang kematian.
Sayup-sayup kudengar suara gemuruh awan hitam di luar; kupandangi satu per satu kilat yang menghantam awan gelap di depan mataku. Aku sama sekali tidak mendengar suara lembutnya lagi. Tidak pernah kudengar canda dan gurau darinya lagi. Sudah setahun ini aku hanya diam di sudut ruang kecil hitamku bersama semilir lagu jazz dan beberapa teguk alkohol yang selalu setia menemani di saat aku mulai bisa berkata, “Aku bosan dengan dunia!”
Kuambil selembar gambar diri seorang wanita di meja persegi tempatku. Aku rindu dengannya... sangat rindu dengan seorang wanita yang selalu menyediakan bahunya di saat aku membutuhkan bahu itu. Seorang wanita yang tidak pernah lelah mendidikku sampai aku mengerti siapa aku.
Aku rindu dengan wanita itu.
Wanita yang selalu memberi pundaknya di saat aku membutuhkannya; wanita yang selalu memberi ASI-nya di saat aku haus dan harus minum, dan wanita yang selalu membelai rambutku di saat aku mulai kehilangan kendali akan arti hidup di dunia jahanam ini.
Aku rindu saat itu. Rindu saat ia memanggilku "Sayang". Ibuku. Aku hanya butuh ibuku saat itu.
***
PUKUL 21.00, seseorang mengetuk pintu kamar dengan kepalan yang keras. Seperti seonggok batu yang dihantamkan ke lembaran kayu tepat di depan daun telinga ini. Kulangkahkan kaki yang benar-benar sudah tidak bisa lagi kurasakan berjalan. Terasa berat, seperti seorang pengemis yang kehilangan kaki tetapi harus menempuh perjalanan seratus kilometer.
Saat kubuka daun pintu itu, kulihat perlahan seorang wanita dengan senyumannya yang terlihat seperti ada seonggok batu besar bersarang di bibirnya. “Sedang apa kau?! Cepatlah rapikan tubuhmu... tampak kotor sekali.”
Aku hanya terdiam dan segera menganggukkan kepalaku tanda mengiyakan ajakannya.
Sesekali aku lihat tubuh semampai di pantulan cermin dekat kamar mandi tempatku bersolek. Aku mulai merapikan tubuhku, menyisir rambutku, lalu mengganti bajuku dengan pakaian yang sudah disiapkan.
“Lama sekali kamu ini?! Sudah tidak betah di sini?”
Mendengar kata-kata itu, aku hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalaku sambil mengatakan “tidak” dengan nada yang hampir saja tidak terdengar.
“Cepatlah... Om Joni sudah menunggumu di depan. Layani dia dengan baik, ya!”
Aku hanya bisa tertunduk dengan semua otakku yang kosong karena aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak bisa bergerak. Mati pun sepertinya menolakku, sampai aku harus bersandiwara mati.
Wanita yang kukenal dahulu tidak seperti wanita yang kukenal masa kini. Wanita itu menjualku pada berbagai lelaki hidung belang hanya untuk kepuasan dunianya. Aku dijual hanya demi memuaskan kantong dan kesenangan dunianya.
Aku benci dunia ibuku. Saat ini, lalu, bahkan dahulu!
Ya, aku sangat benci ibuku yang telah melahirkanku demi beberapa lembar uang para lelaki hidung belang. Aku benci dunia hari ini, hari lalu, bahkan hari esok jika bersama ibu kandungku!
Aku benci ibuku!
—
Galuh Retno F |
Fragmen Fiksi, Maret 2009